incubator

INCUBATOR PERAWATAN

1. Pengertian Dan Fungsi Incubator Perawatan.

Incubator perawatan adalah alat yang berfungsi untuk merawat bayi premature atau mempunyai berat badan lahir rendah (BBLR), dengan cara memberikan suhu dan kelembapan yang stabil dan kebutuhan oxygen sesuai dengan kondisi dalam kandungan ibu.

Nama lain dari incubator perawatan yaitu:

- Infant incubator

- Baby incubator

- Cuff

- Pemanas bayi

2. Komponen alat:

- Heater

- Blower

- Control, temperature dan kelembapan

- Selungkup

- Acces cup

- Display?/ indicator

- Alarm

- Chamber


1. Prinsip Kerja Incubator Perawatan

Inkubator bayi modern yang temperaturnya diatur oleh sistem control.

Temperature pada salluran-saluran suplly udara merubah tahanan thermisor dibandingkan dengan suatu tahanan tetap identik dengan suhu yang di kehendaki atau diset.

Jika suhsu udara memasuki tempat bayi atau chamber lebih rendah dari pada suhu yang di set, daya dihubungkan ke heater untuk mengoreksi perbedaan ini.

Pada sistem control, jumlah daya yang di berikan ke heater sebanding dengan perbedaan atau selisih suhu di antara suhu udara yang sebenarnya dengan suhu yang di set.

Hal ini berarti daya berkurang sewaktu suhu mencapai set poin ( suhu yang di set), merupakan gambaran penting mengenai contoh lebih presisi dan untuk memperkecil kemungkinan melebihi setting. Bila sushu yang dikehendaki tidak tercapai, alarm akan berbunyi.

3. Jenis-Jenis Incubator Perawatan:

- Incubator perawatan dengan pemanas elemen

- Incubator perawatan dengan pemanas bola lampu.

Hal yang perlu diperhatikan:

- Tegangan

- Kebersihan chamber

- Setting suhu

- Alarm

- Aksesoris

- Pembumian

- Lakukan pemeliharaan sesui jadwal

- Lakukan pengujian dan kalibrasi 1 tahun sekali.
Readmoreincubator

suction pump

SUCTION PUMP

    Pengertian dan Fungsi Suction Pump

Suction Pump adalah suatu alat yang yang dipergunakan untuk menghisap cairan yang tidak dibutuhkan pada tubuh manusia.

Nama lain dari Suction Pump adalah:

- Vacum regulator

- Suction contrrollers

- Slym zuiger

- Alat hisap

    Komponen alat

- Motor

- Botol penampung cairan

- Selang

- Suction regulator

- Manometer

- Over Flow Protection / Pelampung (pengaman cairan lebih)

- Foot switch


    Prinsip Kerja

Motor suction adalah sebuah motor listrik, biasanya hanya bekerja pada satu tegangan, yaitu tegangan 110 V atau 220 V, Rpm 145, 50/60 Hz, maka ketika pemilihan motor dilakukan itu harus sesuai dengan besarnya tegangan yang ada yang didalam rangkaiannya dapat kita temukan sebuah capasitor yang memiliki fungsi sebagai starting capasitor.

Penghisap pada bagian ini ada 2 jenis, yaitu:

a. Jenis Centrifugal Rotary yaitu penghisap terdiri dari: beberapa kipas (pisau) yang berada dalam rumah penghisap dan dihubungkan dengan motor (bagian yang berputar pada elektromotor). Pada rumah penghisap bagiaan luar terdapat dua katup (lubang hisap dan lubang tiup) serta lubang pembuangan oli. Oli merupakan pelumas dan pendingin pafa bagian kipas. Manometer yaitu alar yang digunakan untuk mengetahui samapai seberapa kuat penghisap bekerja. Skala 0-800 mmHg

b. Jenis membran terdiri dari: Stang kedudukan, karet membran kedudukan katup, katup hisap dan katup tekan, tutup/rumah penghisap yang mempunyai katup/lubang hisap dan lubang tekan.

Kekuatan daya hisapnya dikontrol dengan menggunakan regulator, ini biasanya diatur saat ssuction kita pakai untuk kondisi hisapan yang berbedaa-beda, ketika cairan terlalu kental maka regulator kita atur dengan kemampuan hisap yang lebih besar sedang untuk kondisi cairan yang lebih encer maka sebaliknya.

Botol vacum, fungsi dari botol vacum adalah untuk memberikan kevakuman udara pada saat digunakan. Pada alat ada yang dapat berfungsi hanya dengan satu buah botol, tetapi akan lebih baik jika menggunakan dua botol, padaa botol akan dilengkapi dengan tutup botol dan disan terdapat dua lubang. Selain itu asesoris lain yang digunakan adalah suction / slang untuk vacum yang besarnya disesuaikan dengan lubang proft daan panjangnya disesuaaikan antara jarak penghisap daan botol.

Suction pump banyak digunakan pada kegiatan operasi di ruang bedah, yaitu untuk menghisap darah yang keluar dari pasien, sedangkan diruang perawatan untuk menghisap lendir dalam mulut dan tenggorokan.

Hal yang perlu diperhatikan:

- Tegangan

- Daya hisap maksimum

- Pembacaan meter

- Botol penampung

- Over Flow Protection

- Seal penutup botol

- Lakukan pemeliharaan sesuai jadwal

- Lakukan pengujian daan kalibrasi 1 tahun sekali A
Readmoresuction pump

alatpengatur jumlah cairan INFUS PUMP

INFUSION PUMP


    Pengertian dan Fungsi Infusion Pump

Infusion pump adalah suatu alat untuk mengatur jumlah cairan / obat yang masukkan kedalam sirkulasi darah pasien secara langsung melalui vena.

Nama lain Inffusion Pump adalah alat infus

    Komponen Alat

- Alarm control

- Pump sistem

- Sensor tetesan

- Kontrol gelembung udara

- Pengatur jumlah tetesan

- Display system

Blok Diagram Infusion Pump

    Prinsip Kerja

Buzzer drive / Buzzer volume variable circuit akan berbunyi dan digunakan sebagai sumber alarm.

Motor drive circuit, yang digunakan pada unit ini adalah motor stepper untuk motor penggerak, rasio dari motor tersebut adalah: PK244-01 4V : 2 phasa, 1,8˚ / step. Tegangan pada motor akan senantiasa dipilih pada masing-masing kecepatan digunakan untuk menstabilkan output putaran. Proses kenaikan tegangan motor dilakukan oleh tipe switching regulator untuk mengurangi kerugian tegangan yang hilang. Spesifikasi tegangan dapat dipilih yaitu sebanyak 32 step.

Nurse call I/O circuit, nurse call relay dikontrol oleh sinyal nurse call relay dari CPU atau signal run out of control stop.

Air in-line detection circuit, untuk mendeteksi keberadaan gelembung pada pipa atau selang pada infus pump, untuk mendeteksi the air in-line maka diigunakan ultrasonic sensor.

Delivery detection circuit, digunakan untuk mendeteksi berapa besar tetesan yang sudah dikeluarkan atau diberikan. Tetesan pada drip chamber dideteksi dengan infra red emitting element yang terletak pada drop sensor probe.

Occlusion detection circuit, rangkaian ini berguna untuk mendeteksi terjadinya penyumbatan saat terjadi tekanan internal pada selang keluaran, dimana pendeteksian secara mekank diatur pada bagian terendah dari fingger unit. Oclusion plunger yang menggunakan magnet akan mendeteksi posisi yang berubah dikarenakan oleh bergeraknya tabung / selang.

Door detection circuit, mendeteksi keadaan door, dimana akan terdeteksi oleh magnet yang dipasang pada pintu dan semua bagian element dihubungkan pada display circuit.

Fail safe circuit, berguna untuk mengetahui keadaan bekerjanya control circuit dan display circuit board CPU yang akan digunakan untuk berkomunikasi dengan bagian lain pada saat status operasi dengan CPU.

Hal yang perlu diperhatikan:

- Tegangan

- Jumlah tetesan / menit

- Display

- Control system

- Lakukan pemeliharaan sesuai jadwal

- Lakukan pengujian dan kalibrasi 1 tahun sekali
Readmorealatpengatur jumlah cairan INFUS PUMP

laser

Low Level Laser Therapy (LLLT)

LLLT improves tissue repair, reduces pain and inflammation wherever the beam is applied. Usually applied by a doctor, therapist or technician, treatments take about 10 minutes and should be applied two or more times a week.

LLLT has been used for many years on sports injuries, arthritic joints, neuropathic pain syndromes, back and neck pain. Over 200 randomised clinical trials have been published on LLLT, half of which are on pain.

Customers include British and US military, Premier Division soccer teams, Olympic teams, Formula 1, rugby and cricket team therapists as well as specialist pain clinics in the UK and USA.
Readmorelaser

ADHD

What Causes ADHD?

Scientists are not sure what causes ADHD, although many studies suggest that genes play a large role. Like many other illnesses, ADHD probably results from a combination of factors. In addition to genetics, researchers are looking at possible environmental factors, and are studying how brain injuries, nutrition, and the social environment might contribute to ADHD.

Genes. Inherited from our parents, genes are the "blueprints" for who we are. Results from several international studies of twins show that ADHD often runs in families. Researchers are looking at several genes that may make people more likely to develop the disorder.2,3 Knowing the genes involved may one day help researchers prevent the disorder before symptoms develop. Learning about specific genes could also lead to better treatments.

Children with ADHD who carry a particular version of a certain gene have thinner brain tissue in the areas of the brain associated with attention. This NIMH research showed that the difference was not permanent, however, and as children with this gene grew up, the brain developed to a normal level of thickness. Their ADHD symptoms also improved.4

Environmental factors. Studies suggest a potential link between cigarette smoking and alcohol use during pregnancy and ADHD in children.5,6 In addition, preschoolers who are exposed to high levels of lead, which can sometimes be found in plumbing fixtures or paint in old buildings, may have a higher risk of developing ADHD.7

Brain injuries. Children who have suffered a brain injury may show some behaviors similar to those of ADHD. However, only a small percentage of children with ADHD have suffered a traumatic brain injury.

Sugar. The idea that refined sugar causes ADHD or makes symptoms worse is popular, but more research discounts this theory than supports it. In one study, researchers gave children foods containing either sugar or a sugar substitute every other day. The children who received sugar showed no different behavior or learning capabilities than those who received the sugar substitute.8 Another study in which children were given higher than average amounts of sugar or sugar substitutes showed similar results.9

In another study, children who were considered sugar-sensitive by their mothers were given the sugar substitute aspartame, also known as Nutrasweet. Although all the children got aspartame, half their mothers were told their children were given sugar, and the other half were told their children were given aspartame. The mothers who thought their children had gotten sugar rated them as more hyperactive than the other children and were more critical of their behavior, compared to mothers who thought their children received aspartame.10

Food additives. Recent British research indicates a possible link between consumption of certain food additives like artificial colors or preservatives, and an increase in activity.11 Research is under way to confirm the findings and to learn more about how food additives may affect hyperactivity.
How is ADHD diagnosed?

Children mature at different rates and have different personalities, temperaments, and energy levels. Most children get distracted, act impulsively, and struggle to concentrate at one time or another. Sometimes, these normal factors may be mistaken for ADHD. ADHD symptoms usually appear early in life, often between the ages of 3 and 6, and because symptoms vary from person to person, the disorder can be hard to diagnose. Parents may first notice that their child loses interest in things sooner than other children, or seems constantly "out of control." Often, teachers notice the symptoms first, when a child has trouble following rules, or frequently "spaces out" in the classroom or on the playground.

No single test can diagnose a child as having ADHD. Instead, a licensed health professional needs to gather information about the child, and his or her behavior and environment. A family may want to first talk with the child's pediatrician. Some pediatricians can assess the child themselves, but many will refer the family to a mental health specialist with experience in childhood mental disorders such as ADHD. The pediatrician or mental health specialist will first try to rule out other possibilities for the symptoms. For example, certain situations, events, or health conditions may cause temporary behaviors in a child that seem like ADHD.
Between them, the referring pediatrician and specialist will determine if a child:

    Is experiencing undetected seizures that could be associated with other medical conditions
    Has a middle ear infection that is causing hearing problems
    Has any undetected hearing or vision problems
    Has any medical problems that affect thinking and behavior
    Has any learning disabilities
    Has anxiety or depression, or other psychiatric problems that might cause ADHD-like symptoms
    Has been affected by a significant and sudden change, such as the death of a family member, a divorce, or parent's job loss.

A specialist will also check school and medical records for clues, to see if the child's home or school settings appear unusually stressful or disrupted, and gather information from the child's parents and teachers. Coaches, babysitters, and other adults who know the child well also may be consulted.
The specialist also will ask:

    Are the behaviors excessive and long-term, and do they affect all aspects of the child's life?
    Do they happen more often in this child compared with the child's peers?
    Are the behaviors a continuous problem or a response to a temporary situation?
    Do the behaviors occur in several settings or only in one place, such as the playground, classroom, or home?

The specialist pays close attention to the child's behavior during different situations. Some situations are highly structured, some have less structure. Others would require the child to keep paying attention. Most children with ADHD are better able to control their behaviors in situations where they are getting individual attention and when they are free to focus on enjoyable activities. These types of situations are less important in the assessment. A child also may be evaluated to see how he or she acts in social situations, and may be given tests of intellectual ability and academic achievement to see if he or she has a learning disability.

Finally, if after gathering all this information the child meets the criteria for ADHD, he or she will be diagnosed with the disorder.
How is ADHD treated?

Currently available treatments focus on reducing the symptoms of ADHD and improving functioning. Treatments include medication, various types of psychotherapy, education or training, or a combination of treatments.
Medications

The most common type of medication used for treating ADHD is called a "stimulant." Although it may seem unusual to treat ADHD with a medication considered a stimulant, it actually has a calming effect on children with ADHD. Many types of stimulant medications are available. A few other ADHD medications are non-stimulants and work differently than stimulants. For many children, ADHD medications reduce hyperactivity and impulsivity and improve their ability to focus, work, and learn. Medication also may improve physical coordination.

However, a one-size-fits-all approach does not apply for all children with ADHD. What works for one child might not work for another. One child might have side effects with a certain medication, while another child may not. Sometimes several different medications or dosages must be tried before finding one that works for a particular child. Any child taking medications must be monitored closely and carefully by caregivers and doctors.

Stimulant medications come in different forms, such as a pill, capsule, liquid, or skin patch. Some medications also come in short-acting, long-acting, or extended release varieties. In each of these varieties, the active ingredient is the same, but it is released differently in the body. Long-acting or extended release forms often allow a child to take the medication just once a day before school, so they don't have to make a daily trip to the school nurse for another dose. Parents and doctors should decide together which medication is best for the child and whether the child needs medication only for school hours or for evenings and weekends, too.

A list of medications and the approved age for use follows. ADHD can be diagnosed and medications prescribed by M.D.s (usually a psychiatrist) and in some states also by clinical psychologists, psychiatric nurse practitioners, and advanced psychiatric nurse specialists. Check with your state's licensing agency for specifics.
ReadmoreADHD

autism

Pendidikan Integratif
Konsep pendidikan integratif memiliki penafsiran yang bermacam-macam antara lain:

    Menempatkan anak autisme dengan anak normal secara penuh
    Pendidikan yang berupaya mengoptimalkan perkembangan fungsi kognitif, efektif, fisik, intuitif secara integrasi

Menurut pandangan penulis, yang di maksud dengan pendidikan integratif adalah :

    Mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal sepenuhnya
    Mengintegrasikan pendidikan anak autisme dengan pendidikan pada umumnya
    Mengintegrasikan dan mengoptimalkan perkembangan kognisi, emosi, jasmani, intuisi, pada autisme
    Mengintegrasikan apa yang dipelajari disekolah dengan tugas masa depan
    Mengintegrasikan manusia sebagai mahluk individual sekaligus mahluk sosial

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak autisme yang belajar bersama anak normal, tetapi mereka tidak memperoleh pelayanan pendidikan secara memadai atau mereka tidak mendapatkan sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Penyebabnya adalah kurangnya sumber daya manusia dan banyak tenaga ahli yang belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang anak autisme atau rasio penyelenggaraan yang sangat mahal, sehingga masih sedikit sekolah yang mau menerima anak autisme karena berbagai alasan diatas. Menyelenggarakan pendidikan integrasi disekolah merupakan kemajuan yang baik, tetapi tidak semudah membalikkan tangan. Namun kita harus berani memulai supaya anak autisme mendapat tempat dan penanganan yang terbaik.

Dimanakah Anak Autisme Harus Sekolah
Komunitas autisme di Jakarta sudah mencapai populasi yang besar dan belum ada sisitem pendidikan yang sistematis. Kalaupun ada biayanya mahal atau belum ada sekolah yang benar-benar sesuai. Tidak ada yang salah dalam situasi ini, baik lembaga, orang tua atau para ahli, mengingat masalah autisme ini masih tergolong baru. Penulis hendak menekankan dengan pemikiran yang sederhana tentang penanganan pendidikan autisme secara benar, dapat digunakan oleh semua kalangan, serta dapat membantu memberikan gambaran anak ini akan dibawa kemana. Kondisi yang harus kita terima sangat berat pada saat anak kita divonis autisme seakan semua pintu telah tertutup, semua jalan jadi buntu, semua kesempatan sudah terlambat. Hanya mukjizat yang akan datang dari Allah. Keadaan yang berat timbul pada saat mengetahui anak kita mengalami hambatan dalam perkembangan dan pertumbuhan dan saat anak memiliki cukup umur harus masuk sekolah.

Beberapa lembaga pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis adalah sebagai berikut;

    Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh
    Anak Autis di sekolah Khusus
    Anak Autis di SLB
    Anak Autis hanya menjalani terapi.

Biasanya sebelum sekolah anak-anak ini sudah mendapatkan penanganan dari berbagai ahli seperti : dokter syaraf, dokter specialis anak (Pediatri), Psikologi, Terapi wicara, OT, Fisioterapi,Orthopedagog (Guru khusus). dengan perkembangan dan perubahan sendirisendiri, ada yang maju pesat tapi ada yang sebaliknya. Menurut saya, kebanyakan orang tua penyandang autisme menginginkan sekolah sebagai status anak, tetapi jangan bersikap tidak realistis dengan tidak berbuat apa-apa karena mengintegrasikan anak autisme dengan anak normal secara penuh harus dengan suatu konsep, perhitungan yang matang dan kerja keras.

Kebanyakan sekolah juga belum memiliki jawaban yang baik untuk saat ini. Yang ada orang tua dan guru-guru sekolah harus bekerja sama, bersikap terbuka, selalu komunikasi untuk membuat perencanaan penanganan dengan tehnik terbaik. Langkah-langkah penerimaan oleh sekolah:

    Tentukan jumlah anak autisme yang akan diterima misal, dua anak dalam satu kelas dan lain-lain.
    Lakukan tes untuk melihat kemampuan serta menyaring anak
    Setelah tes, wawancara orang tua untuk melihat pola pikirnya, apa tujuan memasukkan anak ke sekolah.
    Buatlah kerangka kerja dan hasil observasi awal.
    Susun bagaimana mengatur evaluasi anak dalam hal: siapa yang
    bertanggung jawab mengawasi, menerima complain, periode laporan perkembangan dan lain-lain.
    Buatlah kesepakatan antara orang tua dan sekolah bahwa hasil yang dicapai adalah paling optimal.
Readmoreautism

maca rehabilitasi

Macam Rehabilitasi

Yang dimaksudkan di sini adalah pelayanan rehabilitasi sesuai dengan jenis kelainan dan kebutuhan individual anak

1. Kelainan Mata

Bagi anak yang mengalami kelainan mata dengan masih memiliki siswa kemampuan melihat, macam rehabilitasi yang diberikan adalah Rehabilitasi Visus. Macamnya:

a) Bantuan penyediaan kacamata untuk yang memerlukannya

b) Transplantasi cornea pada yang memerlukannya

c) Operasi pada penderita catharract

Bagi anak yang buta total, memerlukan Rehabilitasi Aesthetic berupa penggunaan mata palsu (prothese). Dan bagi anak yang juling memerlukan Rehabilitasi aesthetic juga berupa operasi strabismus, memperbaiki gerak yang static dan kurang serasi.

2. Kelainan pendengaran

Pelayanan rehabilitasi medis bagi anak kelainan pendengaran, terutama adalah berupa bantuan penggunaan alat bantu mendengar. Bagi anak tertentu kadang juga perlu memperoleh pelayanan reha-bilibitasi medis berupa operasi (cochlear implantasi)

3. Tunagrahita

Pelayanan rehabilitasi medis bagi anak tunagrahita, pada umumnya adalah: (a) fisio therapy, (b) occupational therapy (termasuk di dalamnya play therapy)

4. Tunadaksa

Pelayanan rehabilitasi medis bagi anak tuna daksa meliputi: (a) fisio therapy, (b) occupational therapy, (c) orthotik dan prosthetik, (d) operasi orthopedi, (e) latihan ADL

5. Tunalaras

Anak-anak tunalaras, bagi yang dirasa perlu membutuhkan obat-obatan tertentu untuk membantu proses penyembuhan (kejiwaan, neurologic)

B. Pelaksanaan

1) Physio therapy

Physio therapy merupakan cara sistematis untuk menilai atau memeriksa kelainan-kelainan atau gangguan-gangguan otot dan syaraf termasuk gejala-gejala psikhosomatis dan menangani serta mencegah gangguan fungsi dengan menggunakan cara alamiah, terutama dengan gerakan, manipulasi dan tenaga alami.


a) Mengurangi/ menghilangkan rasa sakit

b) Mengurangi/ menghi­langkan pembengkakan

c) Mencegah/menghilangkan kontraktur otot

d) Mencegah/mengurangi kecacatan

e) Membantu penyembuhan pada penyakit-penyakit tertentu

Pelaksanaan physio therapy, umumnya dengan menggunakan beberapa alternatif sarana seperti air, listrik, sinar, gerakan, pemijatan. Pelaksana physio therapy yang utama adalah seorang physio therapist. Sebagai seorang guru PLB sekaligus sebagai asisten ahli rehabilitasi memiliki peranan dalam dalam membantu pelaksanaan physio therapy, diantaranya:

a) Menyediakan data basil pengamatan, tes dan interview menge-nai kemampuan dan ketidakmampuan fisik., keluhan-keluhan anak dalam mengikuti pelajaran, dsb.

b) Atas dasar saran dokter dan physio therapist serta kemampuan guru sendiri, ia membantu melatih anak dalam kerangka physio therapy, melalui kegiatan belajar mengajar di sekolah

Misalnya:

(1) Melatih gerak sendi tertentu dalam kegiatan olahraga, kesenian, ketrampilan, baik yang berhubungan dengan latihan gerak kasar (duduk, berdiri, berjalan, dsb), latihan gerak halus

(2) Mengawasi penggunaan alat bantu lokomosi anak di kelas

(3) Menumbuhkan kemampuan anak dalam memanfaat­kan sisa organ gerak untuk memperlancar proses belajar di sekolah

(4) Mengelola kelas dan memodifikasi alat bantu mengajar sesuai dengan kondisi anak

(5) Melatih kemampuan ADL

(6) Ikut mengevaluasi kemajuan dan perkembangan kemampuan anak selama proses rehabilitasi fisik

2) Occupational therapy

Yang dimaksud dengan terapi okupasional (occupational therapy) adalah perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan yang mengarahkan keikutsertaan anak dalam aktivitas tertentu dalam usaha mengem­balikan, meningkatkan dan memperbaiki kemampuan kerja, memberikan fasilitas untuk mencapai keahlian tertentu dan fungsi-fungsi lain yang diperlukan untuk program adaptasi dan produktivitas. Juga untuk mengembangkan ataupun mengoreksi keadaan patologis dan meningkatkan serta memelihara
kesehatan.

Terapi okupasional umumnya dilakukan oleh seorang ahli terapi okupasional. Namun demikian guru sebagai pelaksana dan pemeran aktif dalam PBM memiliki peranan yang strategic sebagai tenaga bantu dalam terapi okupasional.

Peran guru dalam terapi okupasional, diantaranya adalah:

(1) Melatih anak dalam berbagai kegiatan yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Misal: cara makan, minum, mandi, dsb.

(2) Memberikan kesibukan tangan dalam pelajaran ketrampilan, PKK, dsb.

(3) Memberikan kesibukan kaki dalam pelajaran ketrampilan, olahraga dan kesehatan, PKK, dsb.

(4) Memberikan latihan kerajinan tangan atau pekerjaan tangan

(5) Melatih gerakan-gerakan lewat kegiatan permainan, kesenian, latihan kerja.

(6) Membantu melatihkan penguasaan alat pembantu atau penopang diri pada anak.

Kesulitan-kesulitan yang ditemui guru dalam pelaksanaan terapi okupasional, perlu dikonsultasikan dengan tim rehabilitasi yang ada di sekolah yang bersangkutan atau kepada ahlinya.

3) Terapi Khusus anak Kelainan Penglihatan

Ada dua macam rehabilitasi medis bagi anak kelainan mata, yaitu rehabilitasi visus dan aesthetis. Yang dimaksud rehabilitasi visus adalah kegiatan rehabilitasi untuk membantu meningkatkan kemampuan melihat anak, sedang rehabilitasi aesthetis meru-pakan upaya memperbaiki kondisi mata, gerak statis, dan gerak yang kurang serasi, sehingga anak berpenampilan yang lebih baik.

Kedua macam rehabilitasi tersebut, merupakan kewenangan dokter mata atau ahli mata lainnya (misal : ahli optikal). Dalam hal ini peranan guru adalah:

a) Membantu menyediakan data awal mengenai kondisi fisik dan fungsi penglihatan anak.

b) Merujuk anak ke ahli optikal atau dokter mata untuk memperoleh pelayanan medis selanjutnya, baik berupa bantuan kaca mata, transplantasi cornea, operasi catharract, operasi trabismus, dsb.

c) Dengan memperhatikan saran ahli medik, guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan kelas yang tidak menambah beratnya masalah anak. Misalnya:

(1) Pengaturan posisi duduk anak

(2) Menulis di papan tulis denqan tulisan yang jelas dan agak besar-besar

(3) Mengoreksi posisi duduk anak yang salah, gerak yang statis, gerak yang kurang serasi

(4) Mengusahakan suasana ruangan yang terang

(5) Memperlengkapi alat peraga yang baik, dsb.

d) Ikut memonitor kemajuan-kemajuan kemampuan anak

4) Terapi Khusus Anak Kelainan Pendengaran

Pelayanan rehabilitasi medis bagi anak kelainan pendengaran, terutama adalah berupa bantuan penggunaan alat bantu mendengar. Bagi anak tertentu kadang juga perlu memperoleh pelayanan rehabili­bitasi medis berupa operasi (cochlear implantasi).

Peranan guru dalam hal ini, terutama dalam:

a) Menyediakan data awal mengenai kondisi fisik dan fungsi pendengaran anak

b) Merujuk anak ke THT untuk memperoleh pelayanan medis selanjutnya, baik berupa bantuan alat bantu mendengar, dll

c) Dengan memperhatikan saran ahli medik, guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan pengelolaan kelas yang tidak menambah beratnya masalah anak. Misalnya:

(1) Pengaturan posisi duduk anak

(2) Guru dalam menjelaskan pelajaran dengan suara yang jelas, keras dan atau gerak bibir yang jelas

(3) Mengusahakan penggunaan alat bantu mendengar secara kelompok/kelas

(4) Memperlengkapi alat peraga yang baik, dsb.

d) Ikut memonitor kemajuan-kemajuan kemampuan anak sesuai dengan pedoman yang ada.

5) Orthotik dan Prosthetik

Yang dimaksud orthotic adalah cara-cara pemeriksaan, penguku-ran, pembuatan dan pengepasan dari alat-alat anggota gerak yang mengalami kelayuhan, parese, fraktur, dll. Sedang prosthetic adalah cara-cara pemeriksaan, pengukuran, pengegipan, pembuatan dan pengepasan dari alat pengganti anggota gerak yang hilang.

Penggunaan orthotik dan prosthetik adalah untuk :

a) Memperbaiki/ mengganti fungsi anggota gerak

b) Mencegah salah bentuk

c) Koreksi dari salah bentuk. Baik pada anggota gerak atas (tangan) maupun bawah (kaki).

Orthotik dan prosthetik sebagai bagian dari tehnik dalam bidang medik, dilaksanakan oleh ahli orthotik dan prosthetik atas order seorang dokter.

Peranan guru dalam hal ini, adalah:

a) Menyiapkan data awal tentang kondisi fisik anak baik yang berhubungan dengan bentuk, keadaan, fungsi dari anggota gerak tubuh

b) Merujuk anak ke ahli medik dan paramedik untuk memperoleh bantuan orthotik/ prosthetik dan pelatihan penggunaannya

c) Menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan memodifikasi materi, cara penyampaian, tempat, dan alat bantu, terutama untuk bidang studi yang memerlukan aktivitas fisik/anggota gerak, agar anak yang menggunakan orthotik/ prosthetik dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Misalnya cara menjepit alat tulis pada orthosis tangan.

d) Membantu mengawasi dan melatih penggunaan orthotik dan prosthetik di lingkungan kelas/ sekolah. Misalnya melatih cara berjalan dengan brace, kruk, cara duduk, cara menendang bola, dsb.

6) Operasi orthopedi

Yang dimaksudkan di sini adalah suatu cara memperbaiki kecacatan pada tubuh terutama pada tulang sendi dan otot–otot melalui operasi/ pembedahan.

Kegiatan rehabilitasi ini merupakan kewenang­an dokter ortopedi/dokter rehabilitasi. Anak/peserta didik yang memer-lukan operasi ortopedi, terutama mereka yang mengalami kelainan bentuk (tulang, sendi dan otot-otot), karena penyakit, trauma, dsb.

Tugas guru PLB dalam hal ini adalah

a) Menyiapkan data dasar tentang kondisi dan kemampuan/ keti-dakmampuan anggota gerak anak.

b) Merujuk ke ahli rehabilitasi/ ortopedi untuk memperoleh perlakuan selanjutnya

c) Melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah sakit bila anak menjalani rawat inap yang lama.

d) Ikut memonitor perkembangan dan kemajuan anak pasca operasi

c. Evaluasi dan Pembinaan Lanjut

Kegiatan evaluasi program rehabilitasi yang sudah dilaksanakan adalah sangat penting. Agar :

1) Capaian program dapat diketahui

2) Kelemahanpelaksanaan rehabilitasi medic yang lalu dapat diketahui, dan

3) Dengan mempertimbangkan hasil dan hambatan, maka dapat disusun program rehabilitasi yang lebih efektif.

Cara melakukan evaluasi sbb:

1) Kegiatan evaluasi dilaksanakan tiap 6 bulan sekali

2) Pelaksanaan evaluasi menggunakan format evaluasi menurut jenis program rehabilitasi yang diberikan (pelayanan kesehatan umum, terapi fisik, terapi okupasional, ADL, social psikologis, dsb)

3) Cara evaluasi melalui kegiatan pengamatan/ interview/ tes/ pemberian tugas

4) Hasil evaluasi secara periodik dilaporkan kepada orangtua/wali siswa dan tim rehabilitasi
Readmoremaca rehabilitasi